Beranda Opini SIKAP MERDEKA NU & MUHAMMADIYAH

SIKAP MERDEKA NU & MUHAMMADIYAH

Iman Zanatul Haeri

Kemdikbud memiliki program guru penggerak; Konsep ini mengacu ke OECD (nanti kita bahas ini), yakni pelibatan “komunitas” untuk melakukan sejenis pelatihan kepada guru-guru.

Pendaftaran dibuka dari berbagai komunitas untuk bergabung dalam program ini.
Peserta baik itu ormas, komunitas hingga CSR swasta yang lolos mendapatkan dana dana:

-Kijang 1 Milyar
-Macan 5 Milyar
-Gajah 10 Milyar

Program semacam sudah dipaksakan, sebagaimana pengakuan Pihak LP-Maarif NU bahwa mereka dihubungi H-3 sebelum penutupan proposal.

Pengakuan pihak Muhammadiyah, bahwa mereka awalnya melihat program ini sangat baik. Namun belakangan, beberapa organisasi yang lolos membuat kecewa.

Kita semua faham, betapa pentingnya keberadaan lembaga NU (termasuk Muhammadiyah) ada dalam list ini dengan kata lain, keduanya masuk sebagai ‘pertimbangan politis saja.’ Artinya verifikasinya bermasalah.

Membaca hasil pengumuman ‘komunitas’ yang lolos dan akan terpilih untuk melatih para guru sebagai komunitas penggerak. Saya cek memang beberapa yayasan “agak” mencurigakan.

Perhatian banyak orang tentu saja pada salah satu komunitas yang lolos; Tanoto Foundation filatropi ‘keluarga Sampoerna.’ lolos dua paket gajah dengan bantuan 20 Milyar.

Orang mulai mencium tajam, karena Dirjen GTK terpilih (dulunya) adalah dosen dari Kampus Sampoerna padahal masalah utamanya karena status kebanyakan yayasan yang terpilih adalah lembaga CSR atau lembaga yang terbiasa bagi-bagi duit.

Sedangkan program ini dikatakan untuk mengajak ‘komunitas penggerak’ yang punya pengalaman di bidang pendidikan dan pelatihan guru.

Tentu soal guru dan kompetensinya, harus ada kualifikasi. Yayasan ini bergerak di bidang apa? Pendidikan? Pendidikan apa? Bantuan pendidikan? Kalau pengertiannya sekedar lembaga yang pekerjaannya memberikan bantuan “buat pendidikan”, logis saja kenapa Dompet Dhuafa lolos, dua paket. Gajah dan Macan.
Tapi apa iya?

Misal saya memahami begini: menjadi pendidik dan melatih pendidik dua hal berbeda. Gak cuma butuh uang. Tapi komitmen dan perjuangan.

Lembaga pendidikan NU & Persyarikatan Muhammadiyah memang layak melaksanakan pelatihan semacam itu. Justru, mereka telah melakukan pelatihan semacam ini bahkan sebelum Nadiem Nakarim dilahirkan ke dunia. NU dan Muhammadiyah memiliki silabus pelatihan guru yang sudah diuji sejarah.

Produknya organisasi penggerak ini telah banyak menggerakan sejarah Bangsa Indonesia.

Bagaimana dengan fakta LP-Maarif NU dan Persyarikatan Muhammadiyah juga ikut mengajukan proposal? Justru ini menjawab bahwa kedua organisasi Pendidikan memiliki itikad baik untuk berkontribusi menjadi penggerak.

Mengapa setelah lolos baru mengundurkan diri? Sikap mengundurkan diri adalah lumrah dalam suatu kompetisi.

Artinya peserta merasa bahwa kompetisi ‘tidak fair’. Bahkan untuk kompetisi Hadiah Nobel, tidak sedikit yang menolak dan mengembalikannya setelah dinominasikan menang
Kalau kita memakai kalkulator untuk menghitung semua biaya, mundurnya NU & Muhammadiyah tidak merugikan sedikitpun kedua organisasi tersebut.

Agaknya keliru kalau dikatakan bahwa mundurnya kedua Lembaga pendidikan kedua Ormas besar tersebut hanya soal ‘iri’ perbedaan angka.

Kita ambil contoh, misal seluruh sekolah dibawah naungan Muhammadiyah digabungkan semuanya, dan hitung seluruh biaya yang dikeluarkan, satu bulan saja.

Apakah sebanding dengan 10-20 Milyar? Bagaimana dengan pengeluaran 1 tahun?

Saya meyakini, angka itu tidak ada apa-apanya. Jadi argumentasi NU & Muhammadiyah ‘iri’ tidak relevan.

Lalu apa yang dimaksud dengan Organisasi penggerak? Konsep ini diambil dari Peta Jalan Pendidikan Indonesia 2020-2035.

BACA:  JANGAN JADIKAN KEMITRAAN OJEK ONLINE SEBAGAI PENINDASAN GAYA BARU

Peta Jalan Pendidikan Indonesia 2020-2035 banyak mengambil–saya bisa mengatakan sebagian besar–dari Learning Compas OECD 2030. Apa itu OECD?

OECD adalah Organization for Economic Co-operation and Development. Sekilas, sudah mulai diduga. Lagi-lagi kita berhadapan dengan rumus yang sama. Yakni: Lembaga ekonomi yang memaksakan konsepnya mengenai pendidikan darimana OECD lahir? didirikan oleh Robert Marlojin dari Perancis, dengan maksud membantu Marshal Plan. Apa itu Marshal Plan? Program kebijakan Luar Negeri AS selama perang dingin melawan Uni Soviet (1945-1991).

Ketemu lagi! Akhirnya kita bertemu dengan rongsokan sisa perang dingin (lagi). Sampai disini dulu sejarahnya. Intinya sebagai lembaga Ekonomi Global, OECD memperluas keanggotaan termasuk memberikan laporan-laporan mengenai ‘bagaimana seharusnya pendidikan dilaksanakan’.


Tidak sampai disitu, sebenarnya PISA atau program asesmen yang menjadi acuan Pendidikan Nasional juga Produk OECD.

BACA:  JANGAN JADIKAN KEMITRAAN OJEK ONLINE SEBAGAI PENINDASAN GAYA BARU

Mulai melihat benang merah?

Kembali soal sikap NU & Muhammadiyah, entah memang sudah tahu latar belakang OECD atau memang naluriah, tindakan keluar dari program semacam ini merupakan tindakan yang konsisten dan harus di apresiasi.

Bagaimanapun kedua organisasi ini merepresentasikan sebagian besar wajah pendidikan Indonesia melalui lembaga pendidikan yang mereka miliki kalau anda mau serius soal Learning Compass OECD 2030, disitu terlihat bagaimana masa depan pendidikan. Sebagai desain dan pengantar, asumsi awalnya manis-manis gula.

Yakni melibatkan orang tua, rekan sejawat, siswa sendiri, dan komunitas dalam pendidikan. Istilah yang dipakai untuk menyebut semua pihak ini adalah ‘Co-Agency’.


Konsep seperti ini memang dipersiapkan untuk pembelajaran daring. Cocok untuk memelihara monster pendidikan bernama MOOCS (nanti kita jelaskan monster ini!).

Sekarang terbukti bahwa peran orang tua semakin besar dalam mensukseskan pembelajaran selama covid-19.

Namun yang terjadi, seperti berita terbaru, seorang ayah mencuri laptop demi pembelajaran daring anaknya (Lampung).

Inilah yang tidak dibahas dalam PJPI 2020-2035 dan Learning Compass OECD 2030. Mengoceh pembelajaran daring didepan orang yang kesulitan listrik dan akses internet.

Dimana Letak ‘Organisasi Penggerak?’ Kata Organisasi Penggerak hanya bagian penjelasan dari konsep Merdeka belajar. Bahkan Organisasi penggerak disejajarkan dengan Perusahaan Teknologi Edukasi (PJPI, hal.31).

Saya bisa pastikan bahwa konsep merdeka belajar hanya copy-paste dari OECD Learning Compas 2030. Design gambarnya pun sama.
Perbedaannya justru; organisasi penggerak dan Perusahaan Teknologi digital masuk dalam elemen ‘masyarakat’.

berbeda dengan Learning Compass OECD 2030.

Entah ini kelebihan atau malapetaka, ditambahkan satu instrumen lain diluar masyarakat dan sekolah. Yakni dunia Usaha/ industri.
Saya masih heran kenapa perusahaan Teknologi Edukasi dimasukan ke elemen ‘masyarakat’, bukan swasta/industri dalam PJPI 2020-2035? Padahal mereka adalah swasta yang mencari profit.

Yang saya takutkan, perusahaan Teknologi edukasi dimasukan ke elemen masyarakat dalam konsep Merdeka Belajar agar mereka bebas dari kewajiban sebagaimana perusahaan atau koorporasi, jadi kalau kita tidak setuju dengan OECD, justru konsep merdeka belajar lebih industri dari OECD yang sangat industrialis.

Lebih liberal dari liberalisme Pendidikan. Untuk itu sekali lagi, saya kira sikap NU & Muhammadiyah keluar dari program Organisasi penggerak sudah tepat sekali. Justru hal ini semacam investasi agar keduanya tidak berkontribusi pada liberalisasi pendidikan yang makin melahap apapun yang ada didepannya. Mungkin itulah pengertian sikap Merdeka.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Must Read

Sejarah Lahirnya Partai Nazi Jerman

Oleh : Daffa Nugroho Ananda NSDAP atau (Nationale Deutche Arbeiter Partei)  dikenal sebuah partai buruh dari Jerman yang pertama...

PERTEMPURAN STALINGRAD

OLEH : Daffa Nugroho Ananda Pertempuran Stalingrad merupakan pertempuran paling terbesar selama Perang Dunia II. Pertempuran ini menggambarkan dimana...

Keterkaitan Antara Soekarno Dengan DN.Aidit dan Partai Komunis Indonesia

Oleh : Daffa Nugroho Ananda Partai Komunis Indonesia merupakan salah satu partai politik  terlarang di Indonesia sejak tahun 1965...

JANGAN JADIKAN KEMITRAAN OJEK ONLINE SEBAGAI PENINDASAN GAYA BARU

Refleksi kondisi mitra ojek online di era pandemi virus Sars-CoV-2 atau virus corona Oleh :Tian Hermawan(Aspal Merah Perjuangan)

Peristiwa PDRI & lahirnya Polwan di Indonesia

kelahiran Polisi Wanita (Polwan) di Indonesia tak jauh berbeda dengan proses kelahiran Polisi Wanita di negara lain, yang bertugas dalam penanganan dan...