Beranda PEMBELAJARAN SEJARAH “Sistem Politik Otoriter”

“Sistem Politik Otoriter”

Oleh :Daffa Nugroho Ananda

Menurut Peter Schorder, sistem otorites memiliki persamaan dengan sistem totaliter, yaiut bahwa keduanya tidak demokratis. Pengertian “ sistem otoriter”tidak memiliki makna yang jelas. Pengertian ini mencakup berbagai rezim yang berbeda. Yang termasuk sistem otoriter adalah diktator militer kiri maupun kanan.

Dalam sistem semacam ini, pemilu seringkali dimanipulasi. Namun berbeda dari sistem totaliter, yang memainkan peran disini bukanlah cara pandang mereka terhadap dunia, melainkan pengamanan kekuasaan. Untuk menyelubungi hal ini, prularisme terbatas pun diperbolehkan, namun tentu saja sejauh hal ini tidak mengancam sistem yang ada. Disini mereka tidak dipersatukan oleh adanya cara pandang yang sama terhadap dunia. Oleh karena itu, parati

1. pemerintah juga tidak memainkan peranan yang terlalu menentukan, dan seringkali digantikan oleh kumpulan penguasa yang didasari oleh hubungan pribadi.

Menurut Huntingtion dan Finer, ciri sistem politik yang otoriter, paternalistik, serta nepotistik yang juga berdasarkan pada pola patron-client, menyebabkan militer menjadi pengayom hampir semua kegiatan politik (organisasi maupun ormas), sementara struktur keamanan mereka ikut mengawasi birokrasi dengan model struktur pemerintah ganda atau bayangan.

A. Tipe-tipe Sistem Otoriter

Menurut Geogre Sorensen, tipe-tipe sistem otoriter ada tiga macam, yaitu :

1.) Rezim pembangunan otoriter. Ciri khas rezim pembangunan otoriter adalahkemampuannya dalam meningkatkan pertumbuhan maupun kesejahteraan. Pemerintah berorientasi pada reformasi dan memperoleh otonomi yang besar dari kepentingan-kepentingan pribadi elit. Pemerintah mengendalikan aparat negara dengan kapasitas birokratis dan organisasional untuk memajukan pembangunan dan dijalankan oleh elit-elite negara yang secara ideologis bertekad mempercepat pembangunan ekonomi dalam pengertian baik pertumbuhan maupun kesejahteraan.

2.) Rezim pertumbuhan otoriter. Suatu pemerintahan yang didominasi oleh elit yangmeningkatkan pertumbuhan ekonomi,t etapi tidak meningkatkan kesejahteraan.

3.)  Rezim penyuburan elite negara otoriter (ASEE). Tipe pemerintahan otoriter yangterakhir, rezim authorian state elite enrichment (ASEE), tidak meningkatkan pertumbuhan ataupun kesejahteraan ; sasaran utamanya adalah lebih pada penyuburan elit yang mengontrol negara. Rezim ini seringkali berdasarkan pada pemerintahan otokratis yang dipimpin oleh seorang pemimpin tertinggi. Walaupun tindakan sang pemimpin berangkali tidak masuk akal ketika dinilai dengan standar tujuan pembangunan formal yang telah direncanakan oleh rezim tindakan-tindakan tersebut masih bisa dimaklumi jika dilihat dari kacamata patronase dan politik klientelisme.

B.  Partisipasi Politik dalam Masyarakat Totaliter

2. Menurut Nazarudin Sjamsuddin, Zulkifli Hamid dan Toto Pribadi, partisipasi politik di rezim atau pemerintah yang totaliter bersifat dikerahkan atau dimobilisasi. Bagi rezim atau pemerintah totaliter, mobilisasi politik sangat penting sebab dari kegiatan itu pemerintah atau rezim tersebut seolah-olah memperoleh dukungan dari masyarakat. Pemerintah semacam itu sering mengadakan pengerahan massa dan masyarakat dipaksa untuk ikut serta dalam kegiatan – kegiatan itu.

C. Rezim Totaliter

Mennurut Peter Schooder, dalam tipologi totalitarianism terutama ditandai oleh hal-hal berikut ini :

1.) Hanya terdapat satu partai yang tidak memperoleh kekuasaanya dari para pemilih dan yang tidak memandang kehendak rakyat sebagai batas kekuasaanya. Partai ini justru menanggap bahwa tugas mereka adalah membentuk kehendak rakyat sesuai dengan bayangan mereka sendiri.

2.) Yang menjadi dasar untuk itu adalah cara pandang mereka terhadap dunia, yang dapat dipersamakan / serupa dengan sebuah agama. Cara pandang ini memberi legitimasi bahwa mereka adalah “benar” dan bahwa mereka tidak hanya sebatas mengenal kondisi ideal masyarakat melainkan juga mewujudkannya dalam batas waktu tertentu.

BACA:  Missi Diplomatik RI, Persaudaraan Islam, Pejoratif Kadrun

3.) Dalam sistem yang totaliter, para warga harus menerima cara pandang dunia yang dimiliki oleh para penguasa. Mereka tidak diperbolehkan menarik dirike dalam ruanggerak bebas mereka, dan memilih untuk tidak ikut terlibat.

  • Rezim Diktaktor

3. Menurut Franz L. Neumann, rezim diktaktor adalah pemerintahan oleh seseorang atau kelompok orang yang menyombongkan diri dan memonopoli kekuasaan dalam negara dan melaksanakannya tanpa batas.

1.) Diktaktor sederhana. Diktaktor hanya dapat melaksanakan kekuasaanya melaluipengendalian yang absolut atas sarana-srana pemaksa tradisional saja, aitu militer, polisi, birokrasi dan peradilan.

2.) Diktaktor kaisaristik. Dalam beberapa situasi, diktaktor dapat erasa dipaksa untukmembangun dukungan masyarakat, dan mendapatkan basis massa, baik demi mencapai kekuasaan ataupun demi pelaksanaan kekuasaan, atau demi keduanya. Sebagaimana ditunjukkan oleh namanya, tipe ini selalu berbentuk diktaktor personal.

3.) Diktaktor Totaliter, yaitu kombinasi paksaan adan dukungan rakyat tidaklah cukup sebagai jaminan kekuasaan. Mungkin perlu mengendalikan pendidikan, sarana komunikasi, dan lembaga-lembaga ekonomi dan karenannya memacu seluruh masyarakat dan kehidupan pribadi warga negaranya kepada sistem dominasi politik. Diktaktor ini dapat bersifat kolektif atau personal, yakni dapat atau tidak dapat mempunyai suaut unsur kaisaristik.

BACA:  Harsono Tjokroaminoto : Guru, aktivis hingga birokrat ulung

E.  Proses Psikologis Diktaktor

Proses psikologi yang berhubungan dengan diktaktor adalah kecemasan dan ketakutan serta fungsinya dalam kehidupan politik. Menurut Freud, kecemasan adalah “peningkatan ketegangan yang timbul karena tidak dupuaskannya kebutuhan individu. Jadi selalu ada setidak-tidaknya secara potensial suatu situasi atau keadaan yang tidak pasti. Selanjutnya ketakutan adalah pengakuan akan bahaya tertentu.

Oleh karena itu, ketakutan eksternal yang timbul damal situasi tertentu dand ari obyek-obyek tertentu dialami sebagai kecemasan internal, yang kemudian dieksternalisasikan dan digiatkan. Tetapi eksternalisasi kecemasan internal, yang kemudian dieksternalisasikan dan digiatkan. Tetapi ekternalisasi kecemasan ini melalui ketakutan sama sekali tidak selalu berbahaya terhadap kepribadian. Kita dapat membedakan tiga jenis fungsi ketakutan, yaitu :

1). Ketakutan sebagai suatu peringatan.

2.) Ketakutan sebagai suatu perlindungan.

3.) Ketakutan sebagai suatu penghancuran.

F.  Rezim Demokrasi

4. Menurut Robterson, sesungguhnya rezim demokratis itu memiliki dua ciri pokok, yaitu:

1.) Partai-partai  yang ada menyeleksi dan merangkum berbagai isu serta menyajikannya

pada pemilih dalam sebuah platform atau janji kampanye partai.

2.) Partai pemenang pemilu menempatkan dirinya sebagai core sistem pemerintahan baru, dengan harapan janji-janji kampanye mereka akan berubah menjadi kebijakan public. Model inilah yang saat ini dikenal dengan istilah the saliency theory. Dengan berlakunya model ini sesungguhnya regulasi yang procedural dari sebuah negara akan dapat berjalan baik, sehingga perubahan-perubahan kebijakan tidak perlu melalui perdebatan yang kerap tidak efektif.

E. Kesimpulan

Sistem politik otoriter adalah sistem politik yang melibatkan militer menjadi aktif dalam dunia politik, maupun gerakan sayap kiri atau sayap kanan. Sistem politik otoriter dibagi menjadi tiga yaitu rezim pembangunan otoriter, Rezim perubahan otoriter, dan rezim penyuburan elite negara otoriter. Lalu ada juga Rezim Totaliter yang berpandangan bahwa rakyat atau warga harus menerima cara pandang dunia yang dimilik oleh penguasa. Lalu ada juga Rezim Diktaktor yaitu dengan cara memonompoli kekutasaan dalam negara dan melaksanakannya tanpa batas.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Must Read

Sejarah Lahirnya Partai Nazi Jerman

Oleh : Daffa Nugroho Ananda NSDAP atau (Nationale Deutche Arbeiter Partei)  dikenal sebuah partai buruh dari Jerman yang pertama...

PERTEMPURAN STALINGRAD

OLEH : Daffa Nugroho Ananda Pertempuran Stalingrad merupakan pertempuran paling terbesar selama Perang Dunia II. Pertempuran ini menggambarkan dimana...

Keterkaitan Antara Soekarno Dengan DN.Aidit dan Partai Komunis Indonesia

Oleh : Daffa Nugroho Ananda Partai Komunis Indonesia merupakan salah satu partai politik  terlarang di Indonesia sejak tahun 1965...

JANGAN JADIKAN KEMITRAAN OJEK ONLINE SEBAGAI PENINDASAN GAYA BARU

Refleksi kondisi mitra ojek online di era pandemi virus Sars-CoV-2 atau virus corona Oleh :Tian Hermawan(Aspal Merah Perjuangan)

Peristiwa PDRI & lahirnya Polwan di Indonesia

kelahiran Polisi Wanita (Polwan) di Indonesia tak jauh berbeda dengan proses kelahiran Polisi Wanita di negara lain, yang bertugas dalam penanganan dan...