Beranda MUSEUM Sejarah Museum Bahari, dari Gudang Rempah hingga Penyimpanan Senjata

Sejarah Museum Bahari, dari Gudang Rempah hingga Penyimpanan Senjata

Penulis Muhammad Irzal Adiakurnia | EditorWahyu Adityo Prodjo

JAKARTA, KOMPAS.com – Tepat pukul 08.55 WIB Museum Bahari yang memuat banyak koleksi kemaritiman Indonesia terbakar.

Bangunan museum di sisi utara terbakar dan koleksinya juga dilalap api seperti miniatur model kapal dan alat-alat navigasi pelayaran.

Museum yang berlokasi di Jalan Pasar Ikan nomer 1 Sunda Kelapa, Jakarta Utara ini memiliki sejarah perjalanan panjang.

Mulai dari zaman VOC bangunannya itu sempat dijadikan gudang rempah, hingga kini memuat berbagai koleksi kemaritiman dari berbagai daerah di Indonesia.

Menurut Kepala Museum Bahari Husnison Nizar, bagian tertua dari museum ini mulai dibangun pada 1652 semasa akhir kepemimpinan Gubernur Jendral Christoffel van Swoll.

Pembangunannya pun dilaksanakan bertahap hingga 1774. Lihat Foto Wisatawan berpose di salah satu kapal koleksi Museum Bahari.

Pada masa VOC, gedung ini berfungsi sebagai gudang penyimpanan, pemilihan, penjemuran, dan pengepakan rempah-rempah.

Pada saat itu rempah yang banyak di sini seperti kopi, dan teh. Selain itu sisi barat Museum Bahari dulunya dikenal dengan sebutan Westzijdsche Pakhuizen atau Gudang Barat, juga kerap digunakan untuk penyimpanan sejumlah komoditi berharga yang dijual di Nusantara.

BACA:  Museum Sejarah Jakarta Persingkat Waktu Kunjungan

Seperti tembaga, timah hingga tekstil milik VOC. Beralih ke masa pendudukan Jepang, bangunan ini hanya dijadikan sebagai tempat menyimpan logistik tentara Jepang.

Bangunan digunakan untuk tempat penyimpanan persenjataan dan bahan pangan. Lihat Foto Wisatawan sedang melihat salah satu koleksi navigasi di Museum Bahari.

Setelah Indonesia Merdeka, bangunan ini dipakai oleh PLN dan PTT untuk gudang. 

Masih dalam bangunan yang sama sejak VOC, barulah Museum Bahari diresmikan pada tahun 1977 oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin, lengkap dengan menara-menara kawal VOC di dalamnya.

Bangunan Museum Bahari atau Museum Kebaharian dan Menara Syahbandar ini punya nilai sejarah yang sangat penting, karena merupakan salah satu peninggalan tertua zaman Belanda dulu,” kata Husnison Nizar kepada Kompas.com, beberapa waktu lalu.

BACA:  Museum Sejarah Jakarta Persingkat Waktu Kunjungan

Banyak sekali kelebihan museum ini yang tercatat dalam sejarah. Diantaranya menjadi tembok warisan VOC terakhir di Nusantara. Juga ragam koleksinya yang paling lengkap soal kemaritiman dari Sabang sampai Merauke.

Sumber : kompas

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Must Read

Sejarah Lahirnya Partai Nazi Jerman

Oleh : Daffa Nugroho Ananda NSDAP atau (Nationale Deutche Arbeiter Partei)  dikenal sebuah partai buruh dari Jerman yang pertama...

PERTEMPURAN STALINGRAD

OLEH : Daffa Nugroho Ananda Pertempuran Stalingrad merupakan pertempuran paling terbesar selama Perang Dunia II. Pertempuran ini menggambarkan dimana...

Keterkaitan Antara Soekarno Dengan DN.Aidit dan Partai Komunis Indonesia

Oleh : Daffa Nugroho Ananda Partai Komunis Indonesia merupakan salah satu partai politik  terlarang di Indonesia sejak tahun 1965...

JANGAN JADIKAN KEMITRAAN OJEK ONLINE SEBAGAI PENINDASAN GAYA BARU

Refleksi kondisi mitra ojek online di era pandemi virus Sars-CoV-2 atau virus corona Oleh :Tian Hermawan(Aspal Merah Perjuangan)

Peristiwa PDRI & lahirnya Polwan di Indonesia

kelahiran Polisi Wanita (Polwan) di Indonesia tak jauh berbeda dengan proses kelahiran Polisi Wanita di negara lain, yang bertugas dalam penanganan dan...